Haul Gus Dur ke-16 di Tasikmalaya: Pentingnya Merawat Relasi Agama dan Alam

1 Feb 2026, 10.34 WIB

Haul Gus Dur ke-16 di Tasikmalaya: Pentingnya Merawat Relasi Agama dan Alam

Ilustrasi Haul Gus Dur ke-16 di Tasikmalaya: Pentingnya Merawat Relasi Agama dan Alam / Foto Dok. Gentra.id

Tasikmalaya, Gentra.id — Gusdurian Tasikmalaya memperingati Haul Gus Dur ke-16 dengan cara yang hangat, membumi, dan sarat makna di Pondok Pesantren Mathlabul Hidayah, Desa Nanggerang, Kecamatan Cigalontang, Sabtu (31/01/2026).

Dengan mengangkat tema “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat dan Agama untuk Alam”, kegiatan ini menjadi ruang temu lintas tokoh, lintas komunitas, dan lintas gagasan tentang bagaimana nilai Gus Dur tetap hidup di tengah masyarakat, terutama dalam relasi agama dan kelestarian lingkungan.

Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua DPRD Kabupaten Tasikmalaya Budi Ahdiat, Ketua Yayasan Ponpes Mathlabul Hidayah H. Apip Irfan Permadi, Camat Cigalontang, Sekretaris PC GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya, budayawan Diwan Masnawi, aktivis perempuan Febrianti Nurzakiyah, Mawahibur Rahman Mubaligh Jemaat AhmadiyahTasikmalaya, petani muda Hilmi Syabani, perwakilan lembaga otonom NU, serta Komunitas Kuluwung yang turut mengisi hiburan budaya.

Ketua Pelaksana Haul, Muhammad Hanifan, menjelaskan bahwa tema yang diangkat tahun ini selaras dengan amanat Direktur Jaringan Gusdurian Alissa Wahid. Menurutnya, refleksi “dari rakyat untuk rakyat” tidak bisa dilepaskan dari kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga alam melalui pemahaman agama.

“Nilai yang diwariskan Gus Dur bukan hanya soal toleransi dan kemanusiaan, tetapi juga bagaimana agama hadir untuk merawat bumi. Ini yang ingin kita hidupkan kembali di Tasikmalaya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Koordinator Gusdurian Tasikmalaya, Zainda Usmana Aulia. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Gus Dur bukan sekadar simbol sejarah, melainkan nilai yang harus tertanam di sanubari masyarakat.

“Gus Dur memulai konsep keadilan ekologi, memetakan gerakan hijau, bahkan pernah menginisiasi moratorium illegal logging. Artinya, jauh sebelum isu lingkungan menjadi tren global, Gus Dur sudah berbicara tentang itu,” kata Zainda.

Kegiatan haul tidak hanya diisi dengan doa bersama, tetapi juga diskusi panel yang menghadirkan akademisi, budayawan, aktivis lingkungan, dan tokoh masyarakat. Diskusi tersebut mengupas relasi agama dan alam dari berbagai sudut pandang.

Budayawan Diwan Masnawi menekankan bahwa kerusakan ekologi tidak bisa dipahami secara sederhana. Menurutnya, setiap agama di dunia memiliki relasi spiritual dengan alam.

“Kita perlu melihat persoalan lingkungan dari berbagai dimensi. Setiap agama punya ajaran tentang relasi manusia dan alam. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar bersahabat dengan alam?” ujarnya.

Aktifis  perempuan Febrianti Nurzakiyah dari Muhamadiyah menambahkan, cara pandang manusia terhadap alam setidaknya harus mencakup tiga perspektif: antroposentris, ekosentris, dan biosentris.

“Ketika kita menebang satu pohon, seharusnya kita mengganti dengan pohon lain. Masalahnya, sering kali banyak pohon ditebang, tetapi tidak ada kepedulian untuk menanam kembali,” tegasnya.

Sementara itu, Narasumber lainnya, Mln. Mawahibur Rahman, Mubaligh Jemaat Ahmadiyah Tasikmalaya, mengaitkan pembahasan dengan identitas Tasikmalaya sebagai wilayah yang sarat makna toponimi dan sejarah spiritual.

“Tasikmalaya tidak bisa dilepaskan dari sejarah Galunggung. Galunggung itu sangat spiritual, sangat religius. Artinya, sejak dulu, relasi agama dan alam sudah menjadi bagian dari identitas wilayah ini,” tuturnya.

Selain diskusi, panitia juga menyerahkan tali asih berupa sembako kepada Dewan Kiyai Ponpes Mathlabul Hidayah sebagai bentuk kepedulian sosial. Suasana semakin hangat dengan penampilan budaya dari Komunitas Kuluwung yang menyatu dengan semangat kebersamaan.

Haul ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Gus Dur tentang kemanusiaan, keberagaman, dan keadilan ekologis tidak berhenti sebagai narasi, tetapi bisa dihidupkan melalui gerakan nyata masyarakat. Di tengah isu kerusakan lingkungan yang semakin terasa, pesan “agama untuk alam” terasa relevan dan mendesak.

Seluruh rangkaian kegiatan juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Gusdurian Tasikmalaya, memungkinkan masyarakat luas turut menyimak refleksi dan diskusi yang berlangsung.

Dari pesantren di kaki Galunggung, nilai Gus Dur kembali digaungkan: bahwa relasi agama dalam menjaga alam bukan sekadar tugas pemerintah atau aktivis lingkungan, melainkan tanggung jawab bersama yang berangkat dari kesadaran rakyat—oleh rakyat, dan untuk rakyat.

N

Nanang AH

Wartawan senior Gentra.id yang berfokus pada analisis hukum, politik, dan kebijakan publik di Indonesia.

Gentra Plus LogoGentra Plus• Dokumenter & Investigasi Eksklusif

Berita eksklusif, analisis mendalam, & laporan investigasi

Langganan Sekarang