Kampanye 24 Jam Tanpa Jeda, KPAID Kabupaten Tasikmalaya Ajak Semua Pihak Perkuat Perlindungan Anak dari Rumah hingga Dunia Digital
22 Jul 2026, 06.33 WIB

Ilustrasi Kampanye 24 Jam Tanpa Jeda, KPAID Kabupaten Tasikmalaya Ajak Semua Pihak Perkuat Perlindungan Anak dari Rumah hingga Dunia Digital / Foto Dok. Gentra.id
Gentra.id – Semangat Hari Anak Nasional 2026 di Kabupaten Tasikmalaya diwujudkan melalui sebuah gerakan yang berbeda. Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya bekerjasama dengan Kodam III Siliwangi menggelar Kampanye Anti Kekerasan pada Anak 24 Jam Tanpa Jeda, sebuah kegiatan maraton yang berlangsung selama 24 jam penuh sebagai simbol komitmen memberikan perlindungan kepada anak tanpa mengenal waktu.
Kampanye kegiatan tersebut dimulai pada 22 Juli 2026 dengan rangkaian pembukaan yang diisi pembacaan ayat suci Al-Qur'an, doa, menyanyikan Indonesia Raya, laporan ketua panitia, sambutan Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ketua KPAI Pusat, pemerintah daerah, hingga tokoh masyarakat.
Selanjutnya, kegiatan diisi dengan diskusi, pentas seni anak, teater antikekerasan, pertunjukan badut edukatif, pagelaran budaya, renungan malam, refleksi pesantren, senam antikekerasan, santunan anak, penyampaian materi, hingga penutupan pada 23 Juli 2026 pukul 15.00 WIB.
Rangkaian acara tersebut sejalan dengan tema "Kampanye Anti Kekerasan Pada Anak 24 Jam Tanpa Jeda", yang menjadi pesan utama dalam peringatan Hari Anak Nasional tahun ini.
Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto, menjelaskan bahwa konsep kegiatan selama 24 jam bukan sekadar memecahkan rekor atau menggelar acara tanpa henti, melainkan memiliki makna mendalam mengenai pentingnya perlindungan anak yang harus dilakukan setiap saat.
Menurutnya, ancaman terhadap anak saat ini telah mengalami perubahan. Jika dahulu kekerasan lebih banyak terjadi di lingkungan sekitar, kini kasus-kasus tersebut mulai bergeser ke ruang digital melalui berbagai bentuk kekerasan siber atau cyberbullying.
"Kegiatan 24 jam ini mengandung filosofi bahwa perlindungan terhadap anak juga tidak boleh berhenti. Orang tua tidak boleh lengah, bahkan satu detik pun, karena ancaman terhadap anak bisa datang kapan saja, termasuk melalui dunia maya," ungkapnya.
Ia menambahkan, kehadiran orang tua tidak hanya dimaknai secara fisik, tetapi juga secara emosional. Anak membutuhkan sosok yang selalu hadir ketika mereka menghadapi persoalan, sehingga keluarga menjadi tempat pertama untuk memperoleh rasa aman.
Ato juga mengajak para orang tua menjadikan Hari Anak Nasional sebagai momentum introspeksi. Menurutnya, orang tua harus berlomba menjadi sosok yang paling dikagumi oleh anak-anaknya sendiri.
"Jangan sampai kita lebih sibuk menjadi idola bagi orang lain, tetapi lupa menjadi idola bagi anak-anak kita sendiri," pesannya.
Ia mengingatkan bahwa slogan Indonesia Aman belum tentu sepenuhnya tercermin dalam lingkungan keluarga. Sebab, perlindungan terbaik terhadap anak justru dimulai dari rumah.
"Indonesia boleh saja aman, tetapi Indonesia kecil, yaitu keluarga kita, belum tentu aman. Karena itu benteng pertama perlindungan anak adalah keluarga," katanya.
KPAID juga mencatat bahwa tren kekerasan terhadap anak dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan, termasuk di Kabupaten Tasikmalaya. Fenomena tersebut menjadi alasan mengapa edukasi mengenai perlindungan anak harus dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Tasikmalaya, Dra. Hj. Wini S.Mi, menegaskan bahwa perlindungan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat.
Ia menyebut filosofi 24 jam tanpa jeda mengandung pesan agar anak senantiasa mendapatkan perlindungan, pendampingan, dan kasih sayang dari orang tua dalam setiap waktu.
"Anak akan lebih terlindungi apabila orang tua selalu hadir, bukan hanya secara fisik, tetapi juga hadir di hati anak ketika mereka membutuhkan," ujarnya.
Menurut Wini, perkembangan teknologi membuat ancaman terhadap anak semakin kompleks. Kekerasan kini tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui media sosial dan platform digital yang kerap luput dari pengawasan orang tua.
Karena itu, ia menilai penguatan fungsi keluarga menjadi langkah paling mendasar dalam mencegah berbagai bentuk kekerasan terhadap anak.
Pada kesempatan tersebut, Wini juga mengajak seluruh orang tua untuk menjadikan rumah sebagai tempat paling aman bagi anak, sehingga mereka memiliki ruang untuk tumbuh, bercerita, dan berkembang tanpa rasa takut.
Kegiatan ini mendapat dukungan luas dari berbagai pihak. Hadir dalam pembukaan antara lain unsur Forkopimda Kabupaten Tasikmalaya, beberpa perwakilan SKPD, DPRD, Kepala Dinas Sosial, jajaran kepala sekolah, tokoh masyarakat, aparat TNI-Polri
Dukungan juga datang dari Kodim, Polres, sponsor, organisasi masyarakat, serta berbagai komunitas yang bersama-sama menyukseskan gerakan perlindungan anak tersebut.
Melalui kampanye yang berlangsung selama 24 jam penuh ini, KPAID Kabupaten Tasikmalaya berharap pesan tentang perlindungan anak tidak berhenti sebagai slogan peringatan Hari Anak Nasional semata, tetapi menjadi gerakan nyata yang dimulai dari lingkungan keluarga.
Nanang AH
Wartawan senior Gentra.id yang berfokus pada analisis hukum, politik, dan kebijakan publik di Indonesia.
Gentra Plus
Berita eksklusif, analisis mendalam, & laporan investigasi

Sering Update di Media Sosial, Mengenali 3 Ciri Kepribadian & Tips Menjaga Kesehatan Mental

PAC GP Ansor Cihideung Gelar Konferancab IV, Ecep Hamdan Terpilih Pimpin Ansor 2026–2029

Tugu Koperasi Tasikmalaya Diusulkan Jadi Cagar Budaya Nasional, Pemerintah Hidupkan Kembali Jejak Sejarah

Konsisten Itu Tidak Sulit, yang Sulit Adalah Berdamai dengan Diri Sendiri

BI Gelar JAYANTARA Priangan Timur 2026, Perkuat UMKM Tembus Pasar Global
