Bukan Sekadar Modal, UMKM Jabar Didorong Berani Hadapi Risiko

4 Sep 2026, 13.04 WIB
WhatsAppSaluran
Bukan Sekadar Modal, UMKM Jabar Didorong Berani Hadapi Risiko
Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mendorong pelaku UMKM mengubah pola pikir dan tidak takut menghadapi risiko kerugian maupun penolakan pasar. Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan pendampingan sertifikasi halal bagi 1.000 pelaku UMKM mikro dan kecil di Kota Bandung, Rabu (2/9/2026).CameraAntara/Humas Pemprov Jabar

Gentra.id-BANDUNG — Menjalankan usaha tidak selalu tentang modal besar, strategi pemasaran yang rumit, atau kemampuan membaca peluang. Ada satu hal yang sering kali justru datang lebih dulu sebelum semua itu dilakukan: keberanian untuk mencoba.

Bagi sebagian pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), rasa takut bisa menjadi penghalang yang tidak terlihat. Takut barang tidak laku, khawatir mengalami kerugian, hingga cemas ketika produk ditolak pasar. Kekhawatiran semacam itu bahkan bisa muncul sebelum langkah pertama benar-benar dilakukan.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menilai persoalan tersebut perlu diubah. Pelaku UMKM didorong untuk membangun keberanian, memperkuat pola pikir, dan tidak menjadikan kemungkinan rugi sebagai alasan untuk berhenti berkembang.

Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan, mentalitas merupakan salah satu faktor penting yang menentukan kemampuan UMKM untuk naik kelas.

Menurut Herman, pelaku usaha harus terlebih dahulu mengubah cara pandang terhadap bisnis. Keberanian untuk mencoba menjadi pintu awal sebelum berbicara lebih jauh mengenai pengembangan usaha.

“Tidak ada alasan pokoknya semua UMKM harus naik kelas, dan itu mulai dari pikiran. Mulai dari pikiran, sesederhana itu,” ujar Herman dalam kegiatan pendampingan UMKM di Kota Bandung, sebagaimana dikutip ANTARA.

Ia menyebut ketakutan terhadap kemungkinan produk tidak laku, mengalami kerugian, maupun menghadapi penolakan pasar kerap menjadi hambatan internal bagi pelaku UMKM.

“Persoalannya belum apa-apa kita semuanya sudah takut. Takut enggak laku, takut rugi, takut ditolak. Itu yang membuat UMKM sulit naik kelas,” katanya.

Bagi Herman, kegagalan dalam sebuah usaha seharusnya tidak selalu dipandang sebagai akhir. Justru dari proses mencoba, mengevaluasi, kemudian mencoba kembali, seorang pelaku usaha dapat menemukan cara yang lebih tepat untuk mengembangkan bisnisnya.

Ia kemudian mengingatkan pelaku UMKM pada sebuah filosofi Sunda yang menggambarkan pentingnya ketekunan. Peribahasa cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok menggambarkan air yang terus menetes hingga mampu membuat cekungan pada batu yang keras.

Pesannya sederhana: sesuatu yang dilakukan terus-menerus akan memberikan hasil.

“Mun keyeng tangtu pareng,” ujar Herman, mengutip petuah leluhur Sunda yang bermakna bahwa kegigihan pada akhirnya akan membuahkan hasil.

Dalam dunia usaha, ketekunan tersebut menjadi semakin penting karena tidak semua produk langsung menemukan pasarnya. Ada proses mengenalkan produk, membangun kepercayaan konsumen, memperbaiki kualitas, hingga menemukan model pemasaran yang sesuai.

Herman juga menekankan pentingnya pengulangan. Ia menyebut keberhasilan bukan semata-mata ditentukan oleh keunggulan seseorang, tetapi juga oleh seberapa konsisten seseorang mengulangi proses dan memperbaiki kesalahan.

“Tidak ada yang unggul, yang ada adalah pengulangan. Repetition, diulang-ulang terus,” katanya.

Namun, keberanian mengambil risiko bukan berarti pelaku UMKM diminta menjalankan usaha tanpa perhitungan. Keberanian perlu berjalan bersama kemampuan membaca pasar, meningkatkan kualitas produk, mengurus legalitas, serta membangun jaringan usaha.

Karena itu, Pemprov Jawa Barat juga mendorong penguatan ekosistem UMKM. Pelaku usaha tidak hanya diminta bekerja sendiri, tetapi membangun lingkungan bisnis yang dapat saling mendukung.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah fasilitasi pendampingan sertifikasi halal bagi 1.000 pelaku UMKM mikro dan kecil. Program tersebut diinisiasi Forum Komunikasi Tionghoa Merah Putih (FOKTI) bersama pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.

Kegiatan pendampingan tersebut berlangsung di Kota Bandung pada Rabu (2/9/2026), bersamaan dengan seminar bertema “AKU KAMU KITA Bergerak Bersama Membangun Bisnis UMKM Indonesia”.

Sertifikasi halal menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat kesiapan produk UMKM agar dapat masuk ke pasar yang lebih luas. Bagi pelaku usaha, legalitas dan standar produk bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi menjadi bagian dari kepercayaan konsumen.

Di sisi lain, pelaku UMKM juga membutuhkan jejaring. Pertemuan dengan sesama pengusaha dapat membuka peluang kerja sama, memperluas pasar, berbagi pengalaman, hingga menemukan solusi ketika usaha menghadapi persoalan.

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Jawa Barat dalam sejumlah programnya juga terus mendorong UMKM memperkuat akses pembiayaan dan pasar internasional. Pada akhir Agustus 2026, misalnya, terdapat program inkubasi bisnis yang diarahkan untuk membekali UMKM dengan akses pembiayaan dan pasar internasional.

Artinya, tantangan UMKM untuk naik kelas bukan hanya soal keberanian mengambil risiko. Setelah keberanian tumbuh, masih ada pekerjaan lain yang harus dilakukan: menjaga kualitas, memahami kebutuhan konsumen, memperbaiki tata kelola, memenuhi legalitas, memperluas jaringan, dan terus belajar.

Pada titik inilah pesan Herman tentang perubahan pola pikir menemukan relevansinya.

Usaha yang besar tidak selalu bermula dari langkah yang besar. Kadang ia dimulai dari keputusan sederhana untuk mencoba, meski ada kemungkinan gagal.

Produk bisa saja tidak langsung laku. Pasar bisa saja belum menerima. Bahkan kerugian mungkin saja terjadi. Tetapi pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari proses menemukan cara yang lebih baik.

Bagi UMKM Jawa Barat, keberanian bukan berarti mengabaikan risiko. Keberanian adalah kesediaan menghadapi risiko dengan perhitungan, belajar dari hasilnya, kemudian kembali melangkah.

Sebab, seperti filosofi yang disampaikan Herman, air yang hanya setetes mungkin tidak akan mengubah batu dalam sehari. Namun ketika ia jatuh di tempat yang sama, terus-menerus dan tanpa berhenti, perlahan batu yang keras pun dapat berubah.

Begitu pula sebuah usaha. Naik kelas bukan pekerjaan sehari semalam. Ia membutuhkan keberanian untuk memulai, ketekunan untuk bertahan, dan kemauan untuk terus mengulang proses hingga menemukan jalan.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.