Dianiaya Kelompok Bermotor, Remaja Penjual Jasuke Meninggal

3 Sep 2026, 12.41 WIB
WhatsAppSaluran
Dianiaya Kelompok Bermotor, Remaja Penjual Jasuke Meninggal
Ilustrasi pengeroyokanCameraGentra.id/AI

Gentra.id-TASIKMALAYA – Kabar duka datang dari keluarga Ikrom Maulana Malik. Remaja berusia 16 tahun asal Leuwimalang, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, itu meninggal dunia setelah tiga hari menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Hermina Tasikmalaya.

Ikrom mengembuskan napas terakhir pada Rabu (2/9/2026) sekitar pukul 13.25 WIB. Sebelumnya, ia mengalami luka serius di bagian kepala setelah diduga menjadi korban penganiayaan sekelompok orang di kawasan Jalan Ir H Juanda, tepatnya di depan eks Terminal Cilembang, Kota Tasikmalaya.

Informasi mengenai meninggalnya Ikrom tercantum dalam materi pemberitaan Lensa Tasik edisi September 2026. Sebelumnya, sejumlah media lokal juga memberitakan Ikrom masih dalam kondisi kritis dan menjalani perawatan intensif di RS Hermina.

Berawal dari Perjalanan Pulang

Peristiwa yang menimpa Ikrom terjadi pada Minggu (30/8/2026) sekitar pukul 04.00 WIB. Saat itu, Ikrom yang sehari-hari berjualan jasuke atau jagung susu keju, berada di kawasan Cilembang setelah sebelumnya bekerja dan menonton pertunjukan musik.

Belum sampai kembali ke rumah, perjalanan remaja tersebut berubah menjadi petaka.

Ikrom diduga menjadi korban penganiayaan oleh sekelompok orang yang disebut-sebut sebagai kelompok bermotor. Ia mengalami luka parah di bagian kepala hingga harus mendapatkan perawatan medis.

Video mengenai kondisi Ikrom sempat beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, korban terlihat tergeletak dengan kepala berlumuran darah. Sejumlah orang kemudian berusaha memberikan pertolongan dengan membopong tubuh korban.

Namun, kepastian mengenai siapa pelaku dan bagaimana persis rangkaian penganiayaan tersebut masih menjadi bagian dari penyelidikan kepolisian.

Ibu korban, Meli Widiawati, sebelumnya mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya belum mengetahui secara utuh kejadian yang menimpa anaknya.

Ia menduga Ikrom mengalami hantaman benda keras pada bagian kepala.

“Saat itu anak saya berada di posisi paling depan dan tidak memakai helm. Saya menduga anak saya dipukul menggunakan batu atau balok kayu ke bagian tengah kepala.”

Pernyataan tersebut disampaikan Meli saat ditemui di RS Hermina pada Selasa (1/9/2026).

Kondisi Ikrom Terus Memburuk

Luka di kepala membuat kondisi Ikrom semakin mengkhawatirkan. Ia kemudian menjalani perawatan intensif di RS Hermina Tasikmalaya.

Sehari sebelum kabar duka tersebut, kondisi Ikrom masih dilaporkan kritis dan bahkan disebut belum sadar. Keluarga terus berharap ada keajaiban di tengah kondisi medis yang berat.

Kabar meninggalnya Ikrom akhirnya menjadi pukulan berat bagi keluarga. Remaja yang dikenal membantu keluarga dengan berjualan jasuke itu kini telah pergi untuk selamanya.

Kematian Ikrom juga menambah perhatian publik terhadap persoalan keamanan di jalanan Kota Tasikmalaya, khususnya aktivitas kelompok bermotor pada malam hingga dini hari.

Polisi Masih Mendalami Kasus

Di tengah duka keluarga, proses hukum atas dugaan penganiayaan tersebut masih menjadi perhatian. Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya Kota AKP Januar Rangga Fardhela sebelumnya menyatakan polisi masih melakukan pendalaman.

Artinya, hingga informasi terakhir yang tersedia, belum ada keterangan resmi yang menyebut siapa saja yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Desakan agar kasus ini segera diungkap juga datang dari kalangan ulama Kota Tasikmalaya. KH Yan-Yan Al Bayani meminta aparat kepolisian melakukan penyelidikan secara menyeluruh dan mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat.

“Kami mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut kasus ini secara tuntas, mengidentifikasi dan menangkap para pelaku yang terlibat, kemudian memprosesnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” tegasnya.

Selain penegakan hukum, kalangan ulama juga mendorong peningkatan patroli di lokasi-lokasi yang dianggap rawan, terutama pada malam hingga dini hari. Keberadaan kelompok bermotor yang berkumpul hingga larut malam dinilai perlu mendapat perhatian agar tidak berkembang menjadi gangguan keamanan maupun kekerasan.

Kini, kepergian Ikrom menyisakan duka bagi keluarga. Di usia yang masih sangat muda, aktivitasnya mencari penghasilan dengan berjualan jasuke berakhir tragis.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa jalanan yang semestinya menjadi ruang bersama dapat berubah menjadi tempat yang mengancam keselamatan ketika kekerasan dan aksi kelompok bermotor tidak segera ditangani.

Publik kini menunggu langkah kepolisian untuk mengungkap secara terang siapa pelaku di balik dugaan penganiayaan tersebut dan memastikan kasus yang merenggut nyawa seorang remaja itu diproses sesuai hukum.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.